banner 728x250

Lingkar Gotong Royong: Support System Hidup Manusia di Tengah Zaman yang Terfragmentasi

  • Bagikan
banner 468x60

Ditulis oleh : Aris Tama ketua umum (ARMADA)

 

Jakarta, Elavanonews.com – Aliansi rakyat mahasiswa anak daerah mengatakan Di tengah dunia yang semakin cepat, padat, dan kompetitif, manusia justru kian sering merasa sendirian. Ironisnya, keterhubungan digital meningkat, tetapi keterhubungan batin melemah. Banyak orang dikelilingi manusia, namun kehilangan support system yang benar-benar menopang hidupnya. (1/2/26).

Di sinilah gotong royong menemukan relevansi barunya.

Dari Nilai Lama ke Kebutuhan Baru

Menurut Aris Gotong royong sering kita pahami sebagai warisan budaya: kerja bakti, saling membantu saat hajatan, atau solidaritas saat bencana. Namun di balik praktik-praktik itu, gotong royong sejatinya adalah sistem pendukung hidup manusia yang telah lama dimiliki bangsa ini.

Manusia tidak diciptakan untuk memikul hidup sendirian. Beban emosional, tekanan ekonomi, krisis makna, hingga kelelahan mental adalah beban yang terlalu berat jika ditanggung sendiri. Gotong royong hadir sebagai mekanisme alami untuk mendistribusikan beban hidup agar tetap manusiawi.

Jelas ketua umum ARMADA tersebut Lingkar Gotong Royong: Relasi yang Menopang Kehidupan

Lingkar Gotong Royong adalah cara baru memandang gotong royong. Ia bukan sekadar aktivitas, melainkan jejaring relasi sadar yang saling menopang. Disebut lingkar karena relasi ini setara, timbal balik, dan berkelanjutan tidak ada yang selalu di atas, tidak ada yang terus-menerus di bawah.

Setiap manusia hidup di dalam beberapa lingkar sekaligus. Ada lingkar inti tempat ia bisa rapuh tanpa takut dihakimi. Ada lingkar komunitas tempat ia berkontribusi dan bertumbuh bersama. Ada pula lingkar sosial yang lebih luas yang menjaga kehidupan bersama tetap berjalan.

Ketika lingkar-lingkar ini sehat, manusia memiliki tempat untuk kembali, berbagi, dan menguatkan diri.

Gotong Royong sebagai Penopang Kesehatan Mental

Banyak persoalan kesehatan mental hari ini tidak semata-mata bersumber dari individu, melainkan dari rapuhnya relasi sosial. Kesepian kronis, kelelahan emosional, dan rasa tidak berarti sering muncul karena manusia kehilangan ruang aman untuk didengar dan diterima.

Lingkar Gotong Royong menyediakan ruang itu. Kehadiran manusia lain yang tulus dan sadar sering kali lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang atau solusi instan. Didengar tanpa dihakimi adalah bentuk pertolongan yang paling mendasar.

Ketahanan Sosial di Tengah Krisis

Pengalaman bangsa ini menunjukkan satu hal penting: saat krisis datang, gotong royonglah yang pertama kali bergerak. Sebelum bantuan formal tiba, masyarakat saling menolong dengan apa yang ada.

Ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan romantisme masa lalu, melainkan fondasi ketahanan sosial. Lingkar Gotong Royong yang hidup membuat masyarakat lebih adaptif, tangguh, dan cepat pulih di tengah guncangan ekonomi, sosial, maupun bencana.

Lebih dari Bertahan: Menemukan Makna Hidup

Gotong royong bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menemukan makna. Ketika seseorang merasa berguna bagi orang lain, hidupnya memperoleh arti. Kontribusi, sekecil apa pun, menumbuhkan rasa memiliki dan harga diri.

Dalam lingkar gotong royong, manusia tidak hanya ditolong, tetapi juga diberi ruang untuk menolong. Di sanalah martabat manusia dijaga sebagai subjek yang berdaya, bukan objek belas kasihan.

Saatnya Menghidupkan Kembali Gotong Royong secara Sadar

Gotong royong tidak akan hidup hanya dengan slogan. Ia membutuhkan kesadaran: kesediaan hadir, mendengar, dan menjaga relasi. Di keluarga, di komunitas, di tempat kerja, bahkan dalam kebijakan publik, paradigma gotong royong perlu dihidupkan kembali sebagai support system manusia.

Di tengah zaman yang terfragmentasi, Lingkar Gotong Royong adalah ajakan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya manusia yang hidup bersama, saling menopang, dan saling menghidupkan.

Karena sejatinya, tidak ada manusia yang benar-benar kuat sendirian.
Ungkap Aris.

banner 325x300
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *